Sebuah monolog untuk E..
Perempuan yang tak sempat kukenal lebih jauh
Mari kita berlari lagi diantara gedung-gedung tinggi menjulang dan mobil-mobil yang terjebak kemacetan ditengah kota. Bisingnya adalah suatu nyanyian, baunya adalah suatu keharuman. Mari kita hirup dalam-dalam polusi udara kota ini dalam gemerlap malam bukti kemapanan yang tersungkur dalam lubang kenistaan.
Mari, hanya kau dan aku, hanya kita berdua, dan kota ini kosong. Kita berlari lewat atas atap-atap mobil, buat mereka rusak dan kita tertawa riang. Seringai bulan tertutup kabut, entah asap, entah awan, adalah kebanggaan tersendiri pada ketuaan semesta. Kita masih muda dalam semesta yang tua maka nikmatilah perempuan tua yang bermake-up tebal ini. Lalu kita berhenti dan duduk-duduk di atap gedung kaca yang paling tinggi di kota ini.
Dengan ganja di tangan dan racun di paru-paru kau bertanya padaku, ”Inginkah kau menjadi tua?” dan aku menjawab, “Ya, aku ingin. Aku ingin merasakan tua lalu mati perlahan.”
“Kenapa?” tanyamu lagi kepadaku sembari menghisap lintingan, menutup mulutmu dengan telapak tangan dan menghisap asapnya dari hidung.
“Kenapa tidak,” kataku, “kalau aku bisa, aku malah ingin hidup seribu tahun lagi, seperti kata penyair yang hidupnya tak lebih dari dua puluh tujuh tahun itu.”
“Tidakkah kau menemukan hidup ini menjemukan, kawan?” katamu, “repetisi ini menyedihkan! Untuk orang-orang sejenius kita, sudah tertebak akan jadi apa pilihan-pilihan yang kita lakukan. Dunia sudah terbukti bobrok dan dialektikanya akan terus berjalan sampai akhir zaman yang entah kapan, tetapi pasti datang.”
“Darimana kau tahu pasti datang?”
“Akhir zamanku datang ketika aku mati. Kaupun begitu.”
“Aku bosan, tetapi nanti akan ada saat tidak bosan. Tidakkah kau merasa begitu?” kataku, “bagi dong..” aku minta sedikit batangan putih dari tangannya.
“Eit! Jangan ganggu orang yang lagi asyik.”
“Huh, perempuan kok suka nyimeng.”
“Emang kenapa kalo perempuan suka nyimeng? Aturan siapa? Tuhan? Pria yang berkontol dan ngikutin nafsunya sendiri ngapain diikutin.”
“Kau bicara sembarangan. Tak takut masuk neraka? Dikutuk baru rasa kau!”
“Human is already condemned! Dan kau dan aku sudah di neraka.”
“Aku sih ngeliatnya berkah.” Kataku sambil mengambil gelas berisi cairan hitam pekat dan meneguknya. Dia memperhatikan.
“Kau tahu,” katanya sambil mengambil gelas plastik dari tanganku, menuangkan plastik berisi cairan hitam berbau aneh, lalu melihat ke dalam gelas,”dulu aku pernah terbang di atas sebuah kota di timur.
“Kota itu indah sekali. Lebih indah dari kota kita ini. Di sana tak ada mobil, karena mobil-mobil sudah hangus terbakar. Tidak ada gedung lagi, yang ada cuma reruntuhan, tidak ada suara bising kota lagi, yang ada hanya dengungan sisa ledakan besar, sisa supernova diatas bumi. Dan yang paling menarik adalah, di sana tak ada orang, hanya ada hantu-hantu. Mereka merayap meratapi patung-patung karbon yang berceceran di jalan dan hanyut di sunga-sungai buatan ledakan yang berwarna biru pekat. Mereka sedang meratapi anggota keluarga dan teman-teman mereka yang tidak berhasil jadi hantu dan hangus dalam keindahan radiasi buatan.
“Lalu, tiba-tiba hujan turun. Para hantu yang tidak pernah merasakan air lagi sejak kematian mereka tersentak kaget. Karena air yang ini terasa begitu nikmat. Warna tetesan hujan itu hitam, seperti cairan pekat yang sedang kulihat ini dan sudah kau minum tadi. Mereka menengadah ke atas sebisa mereka. Yang sudah tidak bisa berdiri membalik badannya yang hitam terbakar dan membuka mulutnya, yang lain berdiri dan menganga. Mereka merasakan cairan pahit dan berbau anyir itu masuk kedalam tubuh mereka, menetes di wajah mereka, dan di kulit mereka yang sudah terkelupas. Lalu mereka mati perlahan-lahan. Hujan itu adalah penyembuh. Pemandangan yang begitu indah. Seandainya itu bisa terjadi di kota laknat ini.”
Aku diam dan berpikir, apa yang membuat kawanku ini begitu dendam pada peradaban.
“Aku dendam,” tanpa ditanya dia menjawab—apa dia bisa membaca pikiranku?—“karena keberadaanku dan kau berbeda, karena aku dibawah, karena kau diatas, karena mereka yang di atas merasa disayang oleh pria berkontol yang menciptakan dunia ini. Aku berkeluh kesah. Aku harap semua dunia dapat merasakan yang kurasakan dan kuharap mereka semua bunuh diri!!!”
Ia berteriak sambil membuang gelas yang masih penuh cairan hitam. Aku memeluknya, dan berkata, “Aku mencintaimu, dengan seluruh jiwa ragaku.” Aku berbisik padanya,”percayalah, aku tidak seperti mereka. Aku ingin merasakan apa yang kau rasakan. Aku ingin kau merasakan apa yang aku rasakan. Kalau kau ingin mati, aku ingin membuatmu ingin hidup, bahagia dan puas dalam masochisme ini. Kalau tidak bisa, kita tak perlu nyawa mereka, kau bisa bunuh diri bersamaku.”
Dia menangis dalam pelukanku, dan sambil berpelukan kami melayang. Di atas gedung itu kami melayang menuju bulan purnama yang bopeng dan penuh awan. Bulan yang tidak memakai make up tak perduli betapa bopengnya ia. Bulan yang tetap cantik dan bersinar dengan kejujurannya. Seperti kau, dan tidak seperti dunia yang terus dihias di wajah, tapi ditusuk-tusuk linggis di vaginanya. Aku dan dia terbang menuju angkasa tanpa batas, dan selama kami melayang, kota dan gedung-gedung perlahan menghilang, harumnya polusi menguap, lancarnya kemacetan dan hingar bingar kota tak terdengar, semua menjadi hampa dan kami tersenyum. Ternyata tak perlu bunuh diri untuk mencapai keabadian: surga nihilis.
Tb Simatupang 050905

i'm lovin it
Posted by: echa | September 26, 2005 12:22 AM
Ya... gw suka sama cara penyampaian ide elo. mengalir ngikutin kata hati elo pada saat itu. Berbakat.... gak ke duga... narasi yg bagus.. tapi gw masih mengkritik kata2 vulgar yg banyak muncul. vulgar itu bagus tapi gimana caranya bikin vulgar itu jadi lebih indah dibaca dan menjadikan referensi baru dalam penulisan. Ayo kembangin lagi ide2 yg udah ada.. buat lagi tulisan semenarik mungkin dengan vulgar2 itu dan buat mereka terperangah dan akhirnya mengakui kalo tulisan elo layak mendapat kredit. No comment on the content.Figuratif nya elo pasti bisa dapetlah... kumpulin semua dalam anthology ya brur...
Posted by: -Dewo Sarjana- | September 26, 2005 06:38 PM