« Vodka, Blues dan Kau! | Main | Subuh Terakhir Sang Imam »

Simone

Pria itu tercengang ketika berpapasan dengan seorang wanita dari masa lalunya, begitu juga wanita itu. Mereka berpapasan di pintu ruang periksa darah sebuah rumah sakit dimana orang-orang berpenyakit HIV/AIDS biasa periksa darah.

“Mas, Mbak, mohon menyingkir. Jangan berdiri di depan pintu masuk”, kata seorang suster kepada mereka.

Mereka berdua hanya berpandangan, tidak bicara. Si wanita masuk ke ruangan cuci darah, si pria keluar. Si pria menunggu bangku panjang di depan pintu masuk bersama pasien-pasien yang menunggu giliran. Urusannya di tempat itu sudah selesai, namun ada urusan lain yang muncul secara tiba-tiba. Suatu urusan yang terjebak dalam suatu ruang dan waktu di masa lalu, dan tak pernah selesai. Ia menunggu dengan harapan bisa menyelesaikan urusan itu.

                                                                ***

Sinar matahari memaksa masuk ke kamar kecil berukuran 3x4 m yang penuh asap rokok. Kamar itu dipenuhi asap bagai kabut pagi dengan aroma klab malam.

“There is something in the eye, when you staring at me There’s a glance beyond the window, that I cannot see”

Musik blues mengalun dari stereo kecil diantara botol-botol minuman keras. Dari Whisky, Bourbon, Tequila, Jack Daniels, sampai minuman murah seperti anggur Orang Tua dan Topi Miring berjejer disana, diatas karpet merah basah yang lusuh dan mengudarakan bau minuman murah dan mahal bercampur asap rokok. Menimbulkan aroma yang khas: pesing. Suntikan, aqua gelas yang isinya tinggal setengah, dan sedikit bubuk putih berceceran di atas karpet merah basah.

Diatas kasur di pojok ruangan, persis di sebelah karpet, seorang gadis telanjang terlentang. Ia terlelap dengan rambut hitam kemerahan yang menutupi wajahnya. Kulitnya putih bersih, tubuhnya kurus dan tulang kerangka membias terbungkus kulit diantara payudaranya. Dadanya kembang-kempis seiring dengan nafas yang terus berhembus. Di ujung kasur tempat gadis itu tidur, seorang pria muda telanjang dada berjongkok di antara ujung kasur dan pintu masuk, menjadi penghalang bagi siapapun yang hendak membuka pintu. Ia berjongkok sambil memperhatikan gadis itu. Matanya lebam kurang tidur, badannya kurus kering dengan kulit kuning tipis menutupi tulang. Ia merokok sambil memperhatikan si gadis sembari terpejam lalu terbangun lagi.

“Tai,” pemuda itu bicara dalam hati, “apa lagi abis ini, Di? Ancur udah semuanya…you’re a drug addict, fuckin’ sex maniac, and now you’re in love with somebody else’s wife. Damn! Screw you!” katanya pada diri sendiri. Ia membuka matanya dan memperhatikan gadis yang terlelap itu. Ia terus berpikir betapa cantiknya ia, perempuan yang membebaskan dirinya sendiri dari kungkungan masyarakat gila. Begitu cerdas dan independen. Sangat berbeda dengan semua perempuan yang ia kenal, gadis ini tahu apa yang dia mau dan sadar akan keberadaannya. Ia menyimpulkan, dengan sangat menyesal dan ketidakmengertian, kalau ia mencintai perempuan itu.

“Mmph…Panas banget sih di sini.” Perempuan itu bangun perlahan. Ia lalu berdiri dan memakai pakaian dalam dan kaos oblong hijau yang berceceran di kasur. “Minggir dikit dong, aku mau cuci muka dulu,” katanya menyuruh pria itu untuk menyingkir dari pintu. ”Di, minggir…” “Iya!” pria itu menyingkir lalu merebahkan diri ke tempat tidur. Tak lama kemudian, perempuan itu kembali ke kamar dengan muka dan rambut yang basah. “Udah sarapan, Di? Nyarap yuk, aku laper nih.”

“Ya udah, kamu tunggu di sini aja. Aku ke depan beli nasi uduk.” Pemuda itu beranjak dari kasur, mengambil kaos putih kusam yang tergantung di belakang pintu dan beranjak keluar.

Si perempuan mengambil sebatang rokok dan menyulutnya. Mereka makan nasi uduk bersama-sama di teras rumah. Pemuda itu tidak bisa tidak memperhatikan si gadis. Ia adalah perempuan yang sangat feminin. Makannya perlahan-lahan menggunakan sendok garpu, mengunyah dengan mulut tertutup, bicaranya lembut agak kekanak-kanakan, semua itu membuat pemuda merasa heran kenapa si gadis, yang suka ngedrugs, minum, dan selingkuh, bisa seelegan dan sefeminin itu. Seperti perempuan baik-baik, tetapi binal.

“Kamu kenapa sih ngeliatin aku terus? Cara makan aku aneh ya?”

“Oh… enggak. Enggak pa-pa. Cuma lucu aja ngeliat kamu makan.”

“Nggak jelas.”

Simone. Apa arti nama itu? Nama Perancis, tapi tidak terlihat wajah perancisnya. Si pemuda terus berfikir sambil makan.

“Om kamu nggak apa-apa kita numpang di rumahnya begini.” Kata Simone setelah selesai makan dan menyalakan rokok.

“Dia nggak tahu kok. Lagi di kamarnya, dan diurusin pembokat. Asal kita nggak berisik, aku rasa kita bisa santai aja.” Di rumah itu tinggal seorang Purnawirawan TNI yang terserang stroke. Ia hanya diurus oleh dua orang pembantunya dan hampir tak pernah keluar rumah. Di kamarnya, ia hanya melamun di atas tempat tidur, tersiksa menunggu mati. Terkadang ia menekan bel di tangan kirinya, satu-satunya bagian tubuh yang masih bisa digerakkan, untuk memanggil pembantunya bila pispotnya penuh, atau saat ia ingin buang air besar, atau sekedar iseng ingin diajak jalan-jalan keliling rumah dengan kursi roda.

“Kok Om kamu sendirian aja tinggal disini?”

“Anaknya udah pada gede-gede. Ada yang gawe, ada yang gitting dan tinggal ama nyokapnya, tapi nggak ada yang mau ngurus dia.”

“Kok? Emang istrinya kenapa?”

“Udah cerai lama sama dia. Waktu sehat kejantannya terlalu aktif, selingkuh kesana kemari, simpenannya banyak, anaknya yang ngurus cuma bininya. Terus cerai, ditinggal selingkuhannya, sekarang di sinilah dia. Berkubang nunggu mati.”

“Oh.”

Mereka berdua merokok sambil melamun. Si pemuda melamunkan Simone. Berpikir apa dia mau meninggalkan suaminya demi pemuda itu. Ia memperhatikan Simone. Bibirnya yang tebal menghisap rokok dengan nikmatnya, sedikit-sedikit. Matanya nanar menatap pagar rumah yang tinggi dan berwarna putih. Pandangan matanya kosong, entah apa yang dipikirkan perempuan itu, pikir si pemuda.

“Kenapa sih kamu nikah, Mon?” pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut si pemuda.

“He..,” gadis itu tertegun seeakan baru bangun dari tidurnya.

“Aku sih cuma pengen bebas dari mama papa aja. Bosen dikontrol mereka. Ngekang banget.” “Jadi kamu nikah terpaksa dan kamu nggak cinta sama suami kamu?”

Yaa…enggak juga sih. Aku suka sama dia, dia orang yang paling perhatian sama aku beberapa tahun ini. Waktu dia ngelamar aku, aku udah bilang aku nggak cinta sama dia, tapi aku mau nikah sama dia soalnya aku butuh suami. Bukan buat jagain aku, tapi buat asesoris status aja, biar bisa bebas. Kita udah komitmen free-relationship kok, jadi aku santai aja.”

“Kalo sama aku?” “Jangan mulai deh. Udah jelas kan? Aku nggak cinta sama siapapun, nggak juga kamu. Tapi aku suka sama kamu, jadi nikmatin aja waktu-waktu ini yang nggak bakalan tahan selamanya. Ok, Di.”

Waktu yang tak akan bertahan selamanya. Kata-kata Simone selalu melekat dalam benak pemuda itu. Suatu hari ia akan menyadari kalau mereka terjebak dalam suatu ruang dan waktu, yang tak pernah akan kembali. Hari sudah sore ketika si pemuda bangun dari lelapnya tidur siang karena mabuk. Dua hari ia dan Simone hanya tidur, senggama, dan nyuntik. Pemuda itu tak pernah puas, tetapi ia bahagia karena semua masalah seakan tidak pernah ada. Ayah-ibunya tak pernah cerai, adik perempuannya yang pertama tak pernah menjadi seorang penganut agama yang fanatik dan mengutuk-ngutuknya, adik perempuannya yang kedua tak pernah menjadi anak SMP yang selalu gonta-ganti pacar, ke diskotik dan having sex dengan siapa saja yang ia mau. Ia juga merasa kalau ia tak pernah lahir, ia merasa kalau ia adalah manusia lain yang hidup bahagia dalam dunia mimpi dengan syndrome euphoria tanpa akhir dan seorang gadis yang dicintainya.

“Simone…” si pemuda mencari-cari perempuan itu dengan meraba-raba kasur. Seharusnya ia tidur disebelahnya. Ia membuka mata, dan melihat sekeliling kamar. Ia menemukan sesosok tubuh telanjang tertidur tertelungkup dengan kulit yang pucat diatas karpet.

“Mon!” pemuda berteriak dan membalik badan kurus perempuan itu. Di lengannya menempel jarum suntik dan dari mulutnya keluar busa. Ia sudah tidak bergerak. Matanya melotot dan tubuhnya kaku. Si pemuda berteriak-teriak minta tolong. Ia memeluk perempuan itu dan menciuminya berkali-kali. Ia terus berteriak, terus berteriak sampai semua orang datang dan kau dan aku melayang di langit-langit kamar. Kita diam. Kita bisu. Kita tuli.

                                                                      ***

Di sebuah restoran fast food, sepasang manusia bercengkrama sambil makan ayam goreng dengan memegang nasi yang terbungkus kertas. Tak ada tawa lepas dalam percakapan mereka, hanya sedikit senyum dan raut wajah yang kaku. Seperti dua orang yang baru kenal beberapa menit. “Kapan kamu tahu kamu kena?” tanya wanita itu kepada si pria.

“…tiga hari setelah anakku lahir.”

“Kamu punya anak? Jangan-jangan kamu nikah juga lagi?”

“Begitu deh.” Si pria menjawab dengan santai sambil makan. Si wanita enggan bertanya lebih jauh karena tahu kalau anak dan istri si pria pasti juga kena.

“Anakku belum tentu kena kok. Soalnya lahirnya sesar dan nggak boleh di susuin ibunya.” Pria itu menjawab seakan tahu apa yang di pikirkan si wanita.

“Masih inget si Hendi nggak? Itu, selingkuhannya Simone.” Si pria bertanya kepada si wanita yang dulu adalah sahabat dekat Simone.

“Hendi si pembalap itu, yang dulu sering ikut dugem bareng kita?”

“Iya. Dia sekarang udah kerja juga jadi developer lho. Bisa juga kerja tuh anak.”

“Terus hubungannya sama Simone?”

“Udah abis lama. Sekitar setahun setelah kamu rehab ke Singapur, Simone meninggal.”

“Hah!?” si perempuan menjatuhkan makanannya karena kaget, ”Kenapa? OD, ya?”

“Awalnya sih aku denger gitu, tapi meninggalnya lebih mirip bunuh diri.”

“Kok kamu tahu?”

“Aku ketemu Hendi sekitar 2 bulan yang lalu di Klinik Dharmais. Dia juga kena. Katanya, Simone make sampe OD itu disengaja. Mereka lagi sama-sama waktu itu, dan waktu si Hendi bangun, Simone udah meninggal. Kata Hendi dia udah pakaw waktu tidur bareng siang itu, tapi dia malah terus ngetep padahal udah tinggi. Padahal dia udah ngerti dosisnya.”

“Simone lebih beruntung daripada kita. Aku juga kadang-kadang pengen bunuh diri.” Perempuan itu entah kenapa tak ingin bertanya lebih jauh lagi mengenai Simone, seakan sudah tahu pasti kenapa Simone mati.

“Kamu berubah deh. Jadi lebih pesimis.”

“Kan aku bilang ‘kadang-kadang’. Kamu juga berubah, jadi bapak-bapak yang kolot. Ngerasa nggak sih kamu, hidup kita nggak pernah berubah? Udah nggak make, kena AIDS. Kurang apa lagi hidup kita, Bay? Tapi aku optimis, hidup harus dijalanin ampe abis. Soalnya abis mati kan nggak bakal ada apa-apa. Selesai semua!”

“Kamu masih nggak percaya akhirat?”

“Begitulah. Sekarang aku sadar satu hal, Bay. Manusia nggak bakal jadi lebih baik. Masalah nggak bakal ilang, ngedrugs atau tanpa ngedrugs. Semua orang gitu kok, mereka belom sadar aja. Masih pada ngarep. Muter-muter terus ampe mati.”

“Aku nggak bisa bohong sama diri sendiri. Aku setuju sama kamu. Tapi aku masih ingin ngeliat orang-orang yang aku sayang bahagia. Aku seneng ngeliatnya. Makanya aku berhenti make terus nikah.”

“Hebat kamu masih perduli sama mereka. Orang-orang yang nggak bisa dipercaya.” Dalam hati, pria itu sangat mengerti apa maksud si wanita. Manusia memang tidak bisa dipercaya, mereka bahkan tidak bisa mempercayai diri sendiri. Pria dan wanita itu berfikir, ketika orang-orang menuntut mereka supaya sembuh, mengasihani mereka, orang-orang itu menjadi egois karena semua kelakuan baiknya semata-mata hanya untuk melihat estetika dalam hidup mereka. Menolak kejelekan hidup. Si pria dan wanita, Simone dan Hendi, adalah contoh orang-orang bebas yang terbuang. Mereka berpisah setelah si pria mencarikan taksi untuk si wanita yang tak mau diantar pulang. Itulah terakhir kali mereka bertemu. Akhirnya selesai sudah urusan mereka yang terjebak dalam ruang dan waktu. Kau dan aku tak perlu tahu apa urusannya, biar itu tetap jadi urusan mereka. Kita hanya perlu melihat dari sini dan merenungi nasib kita sendiri.

(Tb.Simatupang 030905)

                            

Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .