« '69 | Main | TUBUH »

Perempuan Yang Merindukan Lelaki Yang Merindukan Bulan Dari Jendela

Setiap sore, perempuan itu akan duduk di teras rumahnya dan memandang ke arah lantai dua sebuah gedung perkantoran kecil. Di sana ada sebuah jendela yang akan selalu terbuka ketika langit mulai gelap, dan kota mulai diterangi cahaya jingga lampu jalanan. Perempuan itu seakan selalu siap untuk memperhatikan jendela. Setiap sore, ia menyiapkan sepiring pisang goreng dan secangkir kopi untuk ayahnya, lalu mengobrol dengan ayahnya yang berusia 50 tahunan sambil matanya menerawang memperhatikan jendela.

Seringkali tidak ada yang terjadi di jendela itu. Ia akan memandanginya sampai larut malam, dan jendela dan tirainya tidak juga terbuka. Ia harus kembali ke dalam rumah dan mengurus apa saja yang harus di urus, tetapi selalu menyempatkan diri melihat jendela itu, entah dari dalam rumah, atau kalau ia ingin keluar rumah untuk pergi ke warung, atau sekedar mengobrol dengan tetangga.

Ketika malam tiba, ia masih memperhatikan jendela itu. Ketika gelap menyelimuti atap-atap rumah dan bulan menarikan awan-awan kelabu, perempuan itu jaga di dalam kamarnya. Lalu ia akan keluar dari rumah dan kembali memperhatikan jendela itu. Berkali-kali ia lakukan itu sampai cahaya subuh menyeruak dari gedung-gedung tinggi di timur, dan ia lelap selama beberapa menit, bangun dan mandi. Setelah itu ia akan mengenakan pakaian putih-abu-abu, dan pergi sekolah.

Sepulang sekolah, ia tidur dan bangun pada sore hari, membeli pisang goreng, membuat kopi untuk ayah, dan memperhatikan jendela dari teras. Itu yang selalu terjadi. Dari sore, hingga pagi buta.

Tak ada yang terjadi. Perempuan itu tak pernah menyerah. Ia terus menunggu dan memperhatikan. Sampai suatu malam, saat yang dinantinya tiba. Tirai jendela dibuka, Jendela dibuka, dan lelaki itu nampak memandang ke atas langit. Memandang bulan.

Lelaki itu bermandikan cahaya bulan dicampur remangnya lampu jalan yang masuk dari jendela. Setelah ia lama menunggu, bulan akhirnya menampakkan cahayanya dengan penuh dan meneranginya. Ia menunggu dari balik jendela tertutup. Ia hanya mengintip dari dalam tirai, memastikan tidak ada yang memperhatikannya dari bawah sana.

Di dalam gedung itu, si lelaki merindukan bulan. Bulan yang dapat membuatnya kembali menjadi manusia. Lelaki itu adalah makhluk yang dikutuk Tuhan untuk tinggal di dalam gedung itu selama-lamanya. Ia adalah Iblis yang menginkan tubuh Adam, dan vagina Hawa. Ia ingin memiliki rasa itu, dari substansi-substansi yang tidak bisa diberikan unsur apinya yang membara. Dan ketika malam tiba, lelaki itu merindukan bulan yang cahaya akan menerangi semua keinginan hingga semua menyeruak keluar menjadi ia: seorang manusia lelaki. Tubuh Adam, dan bayangan Hawa di Bulan.

Maka ketika Bulan telanjang tanpa selendang awan kelabunya, ia akan membuka tirai, membuka jendela dan membiarkan cahaya bulan membelai tubuhnya: tubuh Adam, sambil ia memperhatikan bayangan Hawa di Bulan.

Sementara itu, si perempuan memperhatikan si lelaki sambil merekam segalanya tentang dia. tubuhnya, wajahnya, kulitnya, dan membuat lelaki itu dari tanah-tanah ide di dalam otaknya. Ia membuat lelaki dari tanah liat untuk dijadikan lelakinya. Perempuan Tuhan meniupkan nyawa ke dalam patung tanah liat dan jadilah ia: Adam yang dibuat dari tanah liat perempuan. Lalu Adam menari-nari didalam surga pikirannya, mengecupnya, membelainya, mencumbunya, mencintanya, dan mengalunginya dengan bunga.

Dan cahaya bulan menghilang perlahan ditelan cahaya terang perlahan mentari. Lelaki itu menutup jendela dan tirainya. Menjadi iblis dalam kegelapan. Sementara itu, Adam di Eden pikiran perempuan muda perlahan menghisap buah dada si perempuan dengan lembut dan menghilang terusir oleh suara-suara bising pagi di kota. Semua berakhir dalam satu malam, dan mereka, perempuan yang merindukan lelaki yang merindukan bulan, akan menunggu malan-malam yang lain.

Malam ketika perempuan menjadi bulan, tanah menjadi iblis, menjadi Adam, memperhatikan Hawa di Bulan yang membuat Adam dengan tanah liat di Eden pikiran. Selamanya, kekal mereka saling merindukan...

ciganjur, 211006

                            

Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .