Malam Perjalanan I
Aspal dingin menyambut deru-deruan mobil di pagi buta. Tanpa tujuan apa aku berjalan susuri pandangan remang lampu dan toko-toko yang baru tutup. Entah ini sudah bulan ke berapa aku susuri kota yang dulu pernah asing bagiku.
Hhh...lelahku resapkan ilmu-ilmu, sugesti, dan doktrin hantu-hantu yang beterbangan di udara dingin malam, debu panas siang, dan sejuk kelas kampus. Aku rindu rumah dan hari-hari yang biasa. Hidup yang biasa. Mati yang biasa. Tapi ternyata Tuhan ada, dan SIAL aku begitu menyesali adaNya! Pilihanku ia permainkan dengan pilihan orang lain dan terjebak aku di dalamnya. Dalam dansa-dansa nenek moyang ia tanamkan ke kepalaku sebuah arketipe yang menyesak: aku melawan. Aku perlawanan. Dan hidupku takkan tenang ketika tenang!
Dan ternyata Ia tak mati setelah kubunuh berkali-kali!
Putus asa ini tak terkalahkan dan abadi. Jangan-jangan ini Engkau Tuhan. Iya. Ini seperti kau. Untungnya segala rasa tertumpah terkubur hidup-hidup bersama bayangmu dalam mulut perempuan-perempuan kelaparan yang berlarian di atas bara api membara bersama anak-anak mereka dalam rahim.
Dan tak juga kau biarkan aku mati, kecuali jika ku sendiri yang hendaki. Kau kirim sahabat-sahabat dengan cinta rindu dendam padaku hingga kucinta rindu dendam mereka dan takkan kubiarkan mereka mati, jika manusia individual, kenapa mereka tak lepaskan aku dan biarkan aku mati saja dikoyak-koyak sepi yang Kau beri.
Sungguh bodoh yang memujaMu. Kapan mereka sadar bahwa sejak jaman Mitologi yang namanya Tuhan takkan berubah: dewa-dewa iseng penuh nafsu untuk berkuasa. Dunia selamanya menjadi gelombang-gelombang itu. Aku dan mereka selamanya fenomena. Dari hidup, sampai mayat humus belatung, terhampar dan menghilang ditelan waktu.
Rinduku. Tak bisakah Kau matikan aku dan kembalikan aku ke masa lalu yang kosong? Ah, kurindukan surga nihilis.
selamanya.
Malam ke 100 perjalanan mencari makna yang mati yang arti. Asli kurasa selamanya.

Comments