Antrhophophagus sang Expresionis
Kau berpikir di depan cermin. Kau perhatikan wajahmu lalu kau bersihkan wajahmu dengan kapas dan cairan pembersih muka. Setelah itu kau beri foundation, kau beri bedak, dan mulai kau lukis dengan pensil, eye-shadow, blush on dan lain-lain. Lalu kau mulai menyisir rambutmu,mengaturnya menempatkan setiap bagian-bagiannya. kau pilih pakaian, dan kau sesuaikan semuanya.
tubuhmu kanvasmu. dan kau adalah senimannya. Setiap kau memilih kau melukis. Bahkan ketika kau memilih pasangan idamanmu, kau melukis: melukis dirimu. Tetapi tahukah kau, kini perlahan kuasmu direnggut, bahkan cat air pun kau tak punya.
Ada orang lain yang melukismu. Ia memperhatikanmu sejak awal, dan tahu apa keinginan awalmu. Kau kagum terhadap orang dibalik layar televisi, kau ingin seperti dia. putih, semampai, dan diidamkan setiap pria. kau ingin seperti dia. lalu kau mulai membeli cat air dan kuas baru yang menjanjikan warna-warna seperti itu di kanvasmu, di tubuhmu.
tetapi masalahnya kanvasmu berbeda. kanvasmu berwarna gelap dan memiliki kerangka yang lebar. Biar kau warnai seperti apapun, tak mungkin kanvasmu menyerupai dia yang di layar tv. Kau merasa menjadi seniman yang gagal.
Kau ingin kanvas baru. Dan keinginan kanvas barulah suatu insting utama makhluk hidup: kanvas baru berarti akhir dari dirimu. Kematianmu. Kematian sang seniman. Keinginan mati adalah bukti keputusasaanmu karena kau menutup keinginan kebahagiaan. kanvasmu kau pikir tak kan dapat menjadi sebuah karya seni yang dikagumi.
Keputusasaanmu kematianmu. Karena jika kau tidak mati, ia takkan berakhir. Maka matilah. Matilah dan lahirlah kembali dengan mata yang baru. Mata seorang expresionis, bukan seorang naturalis. Seorang ekspresionis akan memancarkan cahaya diri sendiri, sedang seorang naturalis akan mengimitasi alam tanpa tahu alam itu tipuan atau bukan.
Hiduplah kembali menjadi seorang ekspresionis, dengan amarah, kebijaksanaan, kesedihan, dan emosi yang menggebu. Kanvasmu yang berkerangka lebar adalah sebuah media anomali. Sebuah penghancur batas-batas yang dibuat kekuasaan yang haus darah. Biar wajah dan tubuhmu yang baru memimpin dunia sampai akhirnya. Jadilah expresionis dan pancarkanlah dirimu. Tembus tubuhmu sendiri, lalu tembus tubuh mereka yang mengunci jiwa-jiwa kesepian mereka. Hiduplah. dan berekspresi.

greaaaaaaaaatttt!!! suka banget sama tulisan lo ini.... =D
"semua orang adalah pelukis untuk diri mereka sendiri"
Posted by: Maria | August 23, 2007 08:26 PM