« Ketika Mati | Main | Waltz is Blues, isn't B? »

Sembunyi

Matahari mengintip lagi subuh ini. Ia adalah mata serigala yang sedang memperhatikan mangsanya yang terpekat malam. Mangsa yang mulai pucat karena tersudut di tepian pagi, sementara mata serigala berubah menjadi mulut yang menerkam malam. Siklus terulang dan akhir berakhir. Awalpun berawal.

Sementara itu seorang pemuda ada di sebuah warnet kosong di penghujung subuh. Hanya ada penjaga warnet yang tertidur, dan seorang perempuan manis, berkulit keremangan pijar lampu dan layar komputer, berambut gelap, dengan tank top hitam sedang mengetik di sampingnya. tank top hitam, dan bros mawar putih menyemat di dada kanan. Mereka sama-sama mengetik. Si perempuan mengetik:

'...dalam ruangan berisi dua orang, seperti di warnet ini, aku merasa separuh. Nanti jika penjaga warnet itu bangun, dan ada dua orang sadar bersamaku di ruangan ini, aku merasa sepertiga. Kau bisa menebak, apa yang terjadi siang ini, ketika aku ada di antara kerumunan orang. Aku merasa tiada. Tak kasat mata...'

Si pemuda melirik ke perempuan  itu. Ia memperhatikan setiap gerakan mata, nafas, dan bibir yang terbias sedikit cahaya. Sedikit cahaya yang menguak banyak detil. Cukup banyak untuk membuat mata konsentrasi hanya ke spektrum yang menjelma menjadi huruf-huruf di layar komputer si pemuda:

'...namanya, Stephany. Seorang mahasiswi yang kost di belakang warnet ini. Ia maniak warna hitam, dan sedikit anti sosial. Ia tidak banyak berdandan, dan wajahnya cukup cantik. Hanya saja sedikit tidak ramah. Ia suka membaca dan menyindiri, dan seorang yang pesimis terhadap hidup. Tetapi di balik itu ia punya imajinasi yang liar, ia sering masturbasi di dalam kamarnya, menyakiti klitorisnya dan hidup dengan cara seperti itu. Tanpa kesepian.'

Si pria melirik lagi ke perempuan itu, dan menemukan si perempuan sudah memperhatikan si pemuda. Pandangan mereka bertemu dan terkunci.

'Apa yang kau lihat?', tanya si perempuan.
'Kau,' jawab si pemuda,' aku melihatmu.

Mereka membisu membatu. Lalu si perempuan berdiri, mendekati di pria, dan langsung mencumbunya. Mereka bergumul, si perempuan menjambak rambut si pria dan melumat bibirnya. Tanpa perlahan, dan lidah-lidah bertemu, liur-liur bertukar. Lalu si perempuan meraba si pria dan membuka retsleting celana si pria...

Putus pandangan itu. Tak ada satu katapun yang keluar dari kedua orang itu. Bahkan pertanyaan,'Apa yang kau lihat?' atau jawaban 'Kau', hanya terucap di dalam hati. Mereka kembali melihat layar komputer, dan sibuk mengetik lagi. Tetapi di dalam pandangan sesaat itu, keduannya terhubung. Aku ada di komputer seberang dan mereka berdua tak bisa melihatku. Aku bisa melihat mereka. Dan di antara keremangan subuh ini, bayangan dalam sekelebat pandangan terkunci tadi terlihat jelas untukku. Dan sungguh, aku tidak menikmati ini. Setelah tulisan ini ku upload, aku akan mengajak gadis itu kenalan. Bukan karena ia cantik, tetapi karena pemuda di sebelahnya tak melakukannya. Mudah untuk jadi tak terlihat, tetapi sulit untuk diam dan memperhatikan. Ketika ada orang sadar satu ruangan denganku, tapi tak menyadari kehadiranku, aku merasa menjadi pemangsa yang memakan kejujuran. Kejujuran yang terpancar oleh ketiadaan...ku.

                            

Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .