« Paralel | Main | Kisah Petani Anggur di Tengah Jakarta: Bags Donk! »

Dian Sastro Mencari Suami

Setelah diwisuda tanggal 24 Agustus lalu sebagai sarjana humaniora, Diandra Paramitha Sastrowardoyo (25), yang lebih dikenal sebagai Dian Sastro, juga dianugrahi penghargaan Budaya oleh almamaternya, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI). Penghargaan ini merupakan suatu bentuk apresiasi FIB UI terhadap mahasiswanya yang berprestasi di luar lingkungan akademis UI. Sebelum kita sampai kepada topik utama artikel ini, kita akan membahas dahulu latar belakang dan motivasi yang membuat artis FIB UI mencari suami setelah lulus.

.

Kampus FIB UI adalah kampus yang kaya penghargaan dan apresiasi. Sebagai kampus Budaya yang mencerminkan budaya Indonesia, kampus FIB UI memberikan banyak penghargaan dan perhatian kepada alam, khususnya alam gaib. Seperti acara sinetron dan kepercayaan yang ada di Indonesia, FIB UI banyak membangun sesembahan kepada makhluk-makhluk alam gaib yang bersemayam di kampus tersebut berupa pembangunan monumen, candi-candi, dan prasasti untuk menghormati keberadaan mereka. Nama-nama jin dan arwah mantan dekan, serta para pendiri FIB diabadikan di prasasti-prasasti tersebut.

.

FIB UI telah berhasil menyemarakkan kembali kepercayaan animisme dan dinamisme di dalam Universitas Indonesia yang terkenal sebagai sarang Intelektual. Namun masyarakat FIB UI, seperti Dian Sastro sebelum lulus, terpaksa menanggung akibat dari sesembahan yang lama kelamaan meminta korban.

.

Korban utama dari pesugihan di FIB UI adalah Mahasiswa. Mereka membayar mahal untuk dapat kuliah di kampus ini, tetapi yang mereka dapat adalah: kantin yang sempit dan berasap, jadwal kuliah yang tidak terkoordinir sehingga seringkali tidak dapat kelas, Kopma yang sempit, kelas yang AC-nya mati, gedung kegiatan mahasiswa yang birokrasi pemakaiannya bertele-tele, lapangan olahraga yang tak berlampu, tidak adanya keringanan biaya, beasiswa langka yang cuma datang dari luar FIB, dan lain-lain.

.

Sementara itu, pesugihan tersebut juga sedang meluluhlantakkan agama-agama modern. Mushola yang selalu kesempitan, kesulitan air, dan kekurangan mukena, juga kegiatan agama-agama lain yang tidak dapat meminjam ruangan dengan mudah, membuat berhala jahiliah semacam Latta dan Uzza hidup kembali, tapi kali ini dalam bentuk monumen-monumen.

.

Korban kedua adalah masyarakat FIB kebanyakan. Petugas penjaga gedung dimarahi jika ada yang rusak pada gedung yang dijaganya, padahal semen dan bata untuk membetulkan gedung tersebut dipakai untuk membuat monumen dan kelas baru. Para pedagang kantin terjepit karena sewa counter yang mahal, tetapi kondisi sanitasi dan udara kantin memburuk sedang 2 kafetaria baru sedang dibangun, membuat kantin yang sudah bobrok pasti kalah saing. Dan parahnya, satpam dibuat paranoid dengan kemungkinan menghadapi jin-jin dan arwah-arwah yang bakal mengamuk jika tidak mendapatkan sesembahan.

.

Korban ketiga tentunya Dian Sastro, yang tak tahu-menahu masalah-masalah pesugihan ini, tetapi namanya dipinjam dan digosipkan mencari suami supaya para warga FIB, khususnya mahasiswa-mahasiswa yang sedang diperas duitnya untuk biaya pesugihan ini, bisa melek dan meminta hak-hak mereka dengan memulai gerakan. Bukan cuma menunggu senat, DPM, HMJ, atau BO-BSO mengurusnya untuk mereka, sementara agama dan kepercayaan mereka ditindas, duit mereka diperas, kegiatan mereka dipersulit, dan makanan mereka keracunan asap karbon monoksida lantaran tidak ada pengeluaran untuk cerobong asap masakan kantin budaya. Kalau mereka keracunan dan mencret-mencret, mereka juga tidak akan bisa berak, karena WC-WC di sekitar kantin dan gedung IX sudah rusak. Sekarang mau apa mereka? Menunggu keracunan dan berak di celana, atau ikut maju menyuarakan haknya?

                            

Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .


My Photo
Powered by Friendster Blogs