« Dian Sastro Mencari Suami | Main | Kill The Girl Who Regret! »

Kisah Petani Anggur di Tengah Jakarta: Bags Donk!

Sudah hampir tiga bulan ini aku menjadi peng-anggur-an. Di kota Jakarta yang luas ini, aku memegang ijazah Sarjana Sastra dari salah satu universitas ternama, dan selama satu minggu ini aku masih berkeliling untuk wawancara kerja di berbagai tempat. Hari ini aku wawancara di sebuah kantor majalah pria di Rasuna Said, yang mengharuskan bisa kerja tujuh hari seminggu dengan bayaran 800 ribu sebulan tanpa transport. Situ kira sini punya pohon duit? Setelah itu aku langsung ke Setia Budi untuk wawancara di sebuah perusahaan saham yang mencari broker yang harus punya modal minimal satu juta rupiah, atau ikut training tanpa bayaran selama tiga bulan. Gila, sampeyan? Broker kok bikin broke? Tanpa kusadari, jam di handphone sudah menunjukan pukul 17.15. Dan seperti biasa, Jakarta yang sedang dibenahi gubernur Fauzi Bowo masih macet. Mungkin nama gubernur itu harus diganti Fauzi Boro: boro-boro dibenahi, jadi kota saja belum. Coba saja tanya dua arsitek tata kota Jakarta, Picasso dan Affandi. Mungkin dulunya mereka mau bikin model kubisme terbesar biar masuk museum rekor.

Kembali ke perjalanan pulang, setelah masa-masa kuliah berakhir, aku merasa seperti sekrup yang sedang mencari mesin. Mana mesin yang cukup untuk aku masuki sampai aku karatan dan dibuang. Sebenarnya semenjak kuliah aku sudah mulai bekerja paruh waktu, baik menjadi guru privat, penerjemah, desainer grafis, bahkan badut di sebuah mal. Dan bukanlah hal yang sulit untuk sekedar mengirim surat lamaran dan wawancara. Masalah timbul ketika aku merasa pesimis atau takut direndahkan. Aku sadar egoku tinggi sekali karena aku merasa bisa segala hal. Aku menguasai komputer grafis dan animasi, aku bisa menulis baik fiksi ataupun akademis dengan baik, aku bisa menggambar, membuat storyline dan storyboard, bahkan mengoperasikan studio rekaman. Satu hal yang sampai sekarang aku tak bisa: kompromi dan memulai dari bawah.

Aku lebih suka dipermalukan jadi badut selama tiga hari berteriak-teriak mengiklankan produk elektronik di Pondok Indah mal sementara ditertawai oleh junior satu kampusku; atau dipermainkan seorang anak sekolahan dalam kelas privat di rumahnya untuk satu bulan, yang penting aku dapat bayaran yang cukup, tidak terikat, dan yang pasti tidak mengganggu kesenanganku yang lain, seperti bermain musik atau berteater. Ah, seandainya musik dan teater bisa untuk hidup! Supaya kalian tahu, aku juga seorang gitaris blues amatir dan seorang pemain teater amatir. Amatir. Artinya aku tidak bisa menjadikan keduanya pekerjaan. Musik blues tidak menjual, dan teater di Indonesia bukanlah profesi. Aku harus bermain sesuai buku, sesuai catatan, sesuai ijazahku, kalau mau dibilang professional.

Jadi di sinilah aku. Menjadi seorang pengelana kota dengan kemeja satu-satunya yang kupunya, celana panjang dengan benang yang klewer-klewer hampir bolong, dan sepatu kulit pinjaman yang mulai rusak. Dengan map merah di tangan, aku tak ubahnya seorang sarjana muda seperti di dalam lagu Iwan Fals: menderita, lelah, dan pengangguran. Dan semua kesalahan bukan pada pemerintah Indonesia yang korup, atau institusi pendidikan yang bobrok, atau orang tuaku yang berhenti kasih biaya kuliah semenjak semester empat. Kesalahan murni ada pada diriku sendiri yang berperang dengan diriku yang lain. Untuk apa? Untuk sebuah kehidupan yang ideal.

Lalu aku bertanya, kehidupan ideal seperti apa yang kuinginkan? Setelah beberapa lama berpikir di dalam bis Metromini Setiabudi-Pasar Minggu yang sumpek, aku jadi sadar, bahwa yang ideal bagiku adalah bekerja apapun yang kumau, asal uang tidak habis. Aku hanya ingin menulis fiksi, membuat lagu, dan bermain Teater. Sesederhana itu. Yang lain aku tak mau peduli. Apa bisa?

Tentu tidak. Aku tahu itu. Semua orang tahu itu, dan semua orang menuntut itu dari dirinya dan dari diri orang lain. Semua orang disekelilingku seperti menuntutku untuk menghasilkan uang sendiri dan menjadi mapan. Keluargaku, khususnya mamaku, selalu menelpon jika ada lowongan pekerjaan reporter TV. Mama ingin aku terjun di bidang media, karena ia melihat banyak potensiku di situ. Sementara Papaku terus mendesak supaya aku ikut ujian pegawai negeri, diterima, dan makan gaji buta hingga aku mati. Menjadi birokrat. Pacarku lain lagi. Ia sedapat mungkin tidak mau memaksaku untuk bekerja, tetapi dari tindak-tanduknya, ia ingin aku menjadi seorang pria mapan yang tidak lagi menyusahkannya. Ia memberiku nyaris segalanya, dari cinta hingga pinjaman uang tanpa bunga (yang bahkan belum kubayar sepeserpun), dari seks hingga teks-teks lowongan kerja untukku. Dan semakin aku berhutang padanya, teman-teman, dan orang tuaku (yang juga berhutang untuk membiayai si pengangguran ini), semakin aku merasa aku harus bekerja. Hingga aku harus lupa. Lupa bahwa aku ingin berkarya, lupa bahwa masih banyak yang bisa kubuat, lupa bahwa masih banyak ide-ide yang ingin kugali, masih banyak buku yang ingin kubaca, film ingin kutonton, barang ingin kubeli, dan yang paling parah, aku lupa bahwa aku masih pengangguran.

Ya. Semua pikiran dan tekanan dari semua orang yang cinta dan peduli padaku membuatku lupa akan segalanya, bahkan akan tuntutan mereka kepadaku. Maka aku berakhir di sini, di antara keringat orang-orang Jakarta di Metromini. Semua orang harus bekerja, semua orang harus memiliki perannya masing-masing dan berusaha bertahan hidup dengan menjadi seperti itu. Dan semua orang harus lupa barang sebentar atau selamanya. Harus.

Aku turun di Pasar Minggu dan naik angkot menuju Depok. Menuju sebuah kamar kos yang bayarannya pun hutangan dengan teman dan/atau pacar. Disebelahku duduk seorang mbak-mbak dengan seragam teller bank yang tadi juga satu bus denganku. Hari sudah malam, kulihat di jam di handphoneku (yang juga pinjaman dari teman pacarku), sudah pukul 20.00. Dan Mbak di sebelahku tertidur dengan muka sangat lelah. Rumah di depok, bekerja di Setia Budi, paling tidak ia berangkat dari rumah pukul 05.30 supaya tidak terjebak macet dan bisa sampai kantor pukul 8 pagi. Pulang pukul 5 sore, kena macet dan sampai rumah pukul 20.30. Setiap hari seperti itu, belum kalau ada lembur. Hidup yang keras, perjuangan yang keras dan kerja yang keras. Untuk apa?

Huh. Sudahlah. Aku ketuk atap angkot, dan berhenti bukan di tujuanku. Aku berhenti di daerah Lenteng Agung untuk mampir di rumah seorang teman yang pasti memiliki banyak cimeng dan minuman keras murah. Aku tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Daripada aku lupa sambil pusing dan tertekan, lebih baik aku lupa sambil mabuk, pusing, tapi tidak tertekan. Tahi semuanya. Hidup keras kerja keras seperti api dilawan api. Seperti dari neraka biasa menuju neraka special dengan wijen dan keju. Tetapi jika kau hidup keras lalu minum dan mabuk lebih keras lagi, kau akan mendapatkan surga dulu baru ke neraka jahanam. Tawaran yang cukup menarik, lebih baik kuambil. Bags donk!!

Salak, September 2007

                            

Comments

shit! what a great story!

perihhh ya nosss... I can imagine that! Itu dia makanya gw bahagia banget dilahirkan jadi perempuan :D huahahahhaahaa

ini fiksi bo! based on true story sieeh...

Nos...lo beneran se-merana itu...ck...ck...ck...
Lo kan bisa kerja sambil berkarya...contohnya (ini cuma contoh aja cui....), lo siang jualan gorengan klo malem jual mie ayam....hehehe...becanda om...jangan ngambek ya !

nice writing, mate. teater, hmm...ada teman memilih teater sebagai pekerjaan tetap dan ia memang sudah memilih hidup sebagai seorang seniman. tapi kadang ia juga (mau tak mau) berkeluh kesah. "menjadi seniman ditakdirkan harus miskin kali," begitu katanya. betul juga ya? suatu counter culture, perlawanan terhadap dunia mainstream yang menjanjikan uang dan kepastian. meski ia pernah mengeluh seperti itu, saya tetap salut. salut akan dedikasinya, meski menurut keluarganya menjadi seniman sama saja dengan menganggur dan nggak menjanjikan apa-apa. miris sih emang!

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .


My Photo
Powered by Friendster Blogs