Perempuan Yang Merindukan Lelaki Yang Merindukan Bulan Dari Jendela

Setiap sore, perempuan itu akan duduk di teras rumahnya dan memandang ke arah lantai dua sebuah gedung perkantoran kecil. Di sana ada sebuah jendela yang akan selalu terbuka ketika langit mulai gelap, dan kota mulai diterangi cahaya jingga lampu jalanan. Perempuan itu seakan selalu siap untuk memperhatikan jendela. Setiap sore, ia menyiapkan sepiring pisang goreng dan secangkir kopi untuk ayahnya, lalu mengobrol dengan ayahnya yang berusia 50 tahunan sambil matanya menerawang memperhatikan jendela.

Seringkali tidak ada yang terjadi di jendela itu. Ia akan memandanginya sampai larut malam, dan jendela dan tirainya tidak juga terbuka. Ia harus kembali ke dalam rumah dan mengurus apa saja yang harus di urus, tetapi selalu menyempatkan diri melihat jendela itu, entah dari dalam rumah, atau kalau ia ingin keluar rumah untuk pergi ke warung, atau sekedar mengobrol dengan tetangga.

Ketika malam tiba, ia masih memperhatikan jendela itu. Ketika gelap menyelimuti atap-atap rumah dan bulan menarikan awan-awan kelabu, perempuan itu jaga di dalam kamarnya. Lalu ia akan keluar dari rumah dan kembali memperhatikan jendela itu. Berkali-kali ia lakukan itu sampai cahaya subuh menyeruak dari gedung-gedung tinggi di timur, dan ia lelap selama beberapa menit, bangun dan mandi. Setelah itu ia akan mengenakan pakaian putih-abu-abu, dan pergi sekolah.

Sepulang sekolah, ia tidur dan bangun pada sore hari, membeli pisang goreng, membuat kopi untuk ayah, dan memperhatikan jendela dari teras. Itu yang selalu terjadi. Dari sore, hingga pagi buta.

Tak ada yang terjadi. Perempuan itu tak pernah menyerah. Ia terus menunggu dan memperhatikan. Sampai suatu malam, saat yang dinantinya tiba. Tirai jendela dibuka, Jendela dibuka, dan lelaki itu nampak memandang ke atas langit. Memandang bulan.

Lelaki itu bermandikan cahaya bulan dicampur remangnya lampu jalan yang masuk dari jendela. Setelah ia lama menunggu, bulan akhirnya menampakkan cahayanya dengan penuh dan meneranginya. Ia menunggu dari balik jendela tertutup. Ia hanya mengintip dari dalam tirai, memastikan tidak ada yang memperhatikannya dari bawah sana.

Di dalam gedung itu, si lelaki merindukan bulan. Bulan yang dapat membuatnya kembali menjadi manusia. Lelaki itu adalah makhluk yang dikutuk Tuhan untuk tinggal di dalam gedung itu selama-lamanya. Ia adalah Iblis yang menginkan tubuh Adam, dan vagina Hawa. Ia ingin memiliki rasa itu, dari substansi-substansi yang tidak bisa diberikan unsur apinya yang membara. Dan ketika malam tiba, lelaki itu merindukan bulan yang cahaya akan menerangi semua keinginan hingga semua menyeruak keluar menjadi ia: seorang manusia lelaki. Tubuh Adam, dan bayangan Hawa di Bulan.

Maka ketika Bulan telanjang tanpa selendang awan kelabunya, ia akan membuka tirai, membuka jendela dan membiarkan cahaya bulan membelai tubuhnya: tubuh Adam, sambil ia memperhatikan bayangan Hawa di Bulan.

Sementara itu, si perempuan memperhatikan si lelaki sambil merekam segalanya tentang dia. tubuhnya, wajahnya, kulitnya, dan membuat lelaki itu dari tanah-tanah ide di dalam otaknya. Ia membuat lelaki dari tanah liat untuk dijadikan lelakinya. Perempuan Tuhan meniupkan nyawa ke dalam patung tanah liat dan jadilah ia: Adam yang dibuat dari tanah liat perempuan. Lalu Adam menari-nari didalam surga pikirannya, mengecupnya, membelainya, mencumbunya, mencintanya, dan mengalunginya dengan bunga.

Dan cahaya bulan menghilang perlahan ditelan cahaya terang perlahan mentari. Lelaki itu menutup jendela dan tirainya. Menjadi iblis dalam kegelapan. Sementara itu, Adam di Eden pikiran perempuan muda perlahan menghisap buah dada si perempuan dengan lembut dan menghilang terusir oleh suara-suara bising pagi di kota. Semua berakhir dalam satu malam, dan mereka, perempuan yang merindukan lelaki yang merindukan bulan, akan menunggu malan-malam yang lain.

Malam ketika perempuan menjadi bulan, tanah menjadi iblis, menjadi Adam, memperhatikan Hawa di Bulan yang membuat Adam dengan tanah liat di Eden pikiran. Selamanya, kekal mereka saling merindukan...

ciganjur, 211006

                            

Malam Perjalanan I

Aspal dingin menyambut deru-deruan mobil di pagi buta. Tanpa tujuan apa aku berjalan susuri pandangan remang lampu dan toko-toko yang baru tutup. Entah ini sudah bulan ke berapa aku susuri kota yang dulu pernah asing bagiku.

Hhh...lelahku resapkan ilmu-ilmu, sugesti, dan doktrin hantu-hantu yang beterbangan di udara dingin malam, debu panas siang, dan sejuk kelas kampus. Aku rindu rumah dan hari-hari yang biasa. Hidup yang biasa. Mati yang biasa. Tapi ternyata Tuhan ada, dan SIAL aku begitu menyesali adaNya! Pilihanku ia permainkan dengan pilihan orang lain dan terjebak aku di dalamnya. Dalam dansa-dansa nenek moyang ia tanamkan ke kepalaku sebuah arketipe yang menyesak: aku melawan. Aku perlawanan. Dan hidupku takkan tenang ketika tenang!

Dan ternyata Ia tak mati setelah kubunuh berkali-kali!

Putus asa ini tak terkalahkan dan abadi. Jangan-jangan ini Engkau Tuhan. Iya. Ini seperti kau. Untungnya segala rasa tertumpah terkubur hidup-hidup bersama bayangmu dalam mulut perempuan-perempuan kelaparan yang berlarian di atas bara api membara bersama anak-anak mereka dalam rahim.

Dan tak juga kau biarkan aku mati, kecuali jika ku sendiri yang hendaki. Kau kirim sahabat-sahabat dengan cinta rindu dendam padaku hingga kucinta rindu dendam mereka dan takkan kubiarkan mereka mati, jika manusia individual, kenapa mereka tak lepaskan aku dan biarkan aku mati saja dikoyak-koyak sepi yang Kau beri.

Sungguh bodoh yang memujaMu. Kapan mereka sadar bahwa sejak jaman Mitologi yang namanya Tuhan takkan berubah: dewa-dewa iseng penuh nafsu untuk berkuasa. Dunia selamanya menjadi gelombang-gelombang itu. Aku dan mereka selamanya fenomena. Dari hidup, sampai mayat humus belatung, terhampar dan menghilang ditelan waktu.

Rinduku. Tak bisakah Kau matikan aku dan kembalikan aku ke masa lalu yang kosong? Ah, kurindukan surga nihilis.

selamanya.

Malam ke 100 perjalanan mencari makna yang mati yang arti. Asli kurasa selamanya.

Simone

Pria itu tercengang ketika berpapasan dengan seorang wanita dari masa lalunya, begitu juga wanita itu. Mereka berpapasan di pintu ruang periksa darah sebuah rumah sakit dimana orang-orang berpenyakit HIV/AIDS biasa periksa darah.

“Mas, Mbak, mohon menyingkir. Jangan berdiri di depan pintu masuk”, kata seorang suster kepada mereka.

Mereka berdua hanya berpandangan, tidak bicara. Si wanita masuk ke ruangan cuci darah, si pria keluar. Si pria menunggu bangku panjang di depan pintu masuk bersama pasien-pasien yang menunggu giliran. Urusannya di tempat itu sudah selesai, namun ada urusan lain yang muncul secara tiba-tiba. Suatu urusan yang terjebak dalam suatu ruang dan waktu di masa lalu, dan tak pernah selesai. Ia menunggu dengan harapan bisa menyelesaikan urusan itu.

                                                                ***

Sinar matahari memaksa masuk ke kamar kecil berukuran 3x4 m yang penuh asap rokok. Kamar itu dipenuhi asap bagai kabut pagi dengan aroma klab malam.

“There is something in the eye, when you staring at me There’s a glance beyond the window, that I cannot see”

Musik blues mengalun dari stereo kecil diantara botol-botol minuman keras. Dari Whisky, Bourbon, Tequila, Jack Daniels, sampai minuman murah seperti anggur Orang Tua dan Topi Miring berjejer disana, diatas karpet merah basah yang lusuh dan mengudarakan bau minuman murah dan mahal bercampur asap rokok. Menimbulkan aroma yang khas: pesing. Suntikan, aqua gelas yang isinya tinggal setengah, dan sedikit bubuk putih berceceran di atas karpet merah basah.

Diatas kasur di pojok ruangan, persis di sebelah karpet, seorang gadis telanjang terlentang. Ia terlelap dengan rambut hitam kemerahan yang menutupi wajahnya. Kulitnya putih bersih, tubuhnya kurus dan tulang kerangka membias terbungkus kulit diantara payudaranya. Dadanya kembang-kempis seiring dengan nafas yang terus berhembus. Di ujung kasur tempat gadis itu tidur, seorang pria muda telanjang dada berjongkok di antara ujung kasur dan pintu masuk, menjadi penghalang bagi siapapun yang hendak membuka pintu. Ia berjongkok sambil memperhatikan gadis itu. Matanya lebam kurang tidur, badannya kurus kering dengan kulit kuning tipis menutupi tulang. Ia merokok sambil memperhatikan si gadis sembari terpejam lalu terbangun lagi.

“Tai,” pemuda itu bicara dalam hati, “apa lagi abis ini, Di? Ancur udah semuanya…you’re a drug addict, fuckin’ sex maniac, and now you’re in love with somebody else’s wife. Damn! Screw you!” katanya pada diri sendiri. Ia membuka matanya dan memperhatikan gadis yang terlelap itu. Ia terus berpikir betapa cantiknya ia, perempuan yang membebaskan dirinya sendiri dari kungkungan masyarakat gila. Begitu cerdas dan independen. Sangat berbeda dengan semua perempuan yang ia kenal, gadis ini tahu apa yang dia mau dan sadar akan keberadaannya. Ia menyimpulkan, dengan sangat menyesal dan ketidakmengertian, kalau ia mencintai perempuan itu.

“Mmph…Panas banget sih di sini.” Perempuan itu bangun perlahan. Ia lalu berdiri dan memakai pakaian dalam dan kaos oblong hijau yang berceceran di kasur. “Minggir dikit dong, aku mau cuci muka dulu,” katanya menyuruh pria itu untuk menyingkir dari pintu. ”Di, minggir…” “Iya!” pria itu menyingkir lalu merebahkan diri ke tempat tidur. Tak lama kemudian, perempuan itu kembali ke kamar dengan muka dan rambut yang basah. “Udah sarapan, Di? Nyarap yuk, aku laper nih.”

“Ya udah, kamu tunggu di sini aja. Aku ke depan beli nasi uduk.” Pemuda itu beranjak dari kasur, mengambil kaos putih kusam yang tergantung di belakang pintu dan beranjak keluar.

Si perempuan mengambil sebatang rokok dan menyulutnya. Mereka makan nasi uduk bersama-sama di teras rumah. Pemuda itu tidak bisa tidak memperhatikan si gadis. Ia adalah perempuan yang sangat feminin. Makannya perlahan-lahan menggunakan sendok garpu, mengunyah dengan mulut tertutup, bicaranya lembut agak kekanak-kanakan, semua itu membuat pemuda merasa heran kenapa si gadis, yang suka ngedrugs, minum, dan selingkuh, bisa seelegan dan sefeminin itu. Seperti perempuan baik-baik, tetapi binal.

“Kamu kenapa sih ngeliatin aku terus? Cara makan aku aneh ya?”

“Oh… enggak. Enggak pa-pa. Cuma lucu aja ngeliat kamu makan.”

“Nggak jelas.”

Simone. Apa arti nama itu? Nama Perancis, tapi tidak terlihat wajah perancisnya. Si pemuda terus berfikir sambil makan.

“Om kamu nggak apa-apa kita numpang di rumahnya begini.” Kata Simone setelah selesai makan dan menyalakan rokok.

“Dia nggak tahu kok. Lagi di kamarnya, dan diurusin pembokat. Asal kita nggak berisik, aku rasa kita bisa santai aja.” Di rumah itu tinggal seorang Purnawirawan TNI yang terserang stroke. Ia hanya diurus oleh dua orang pembantunya dan hampir tak pernah keluar rumah. Di kamarnya, ia hanya melamun di atas tempat tidur, tersiksa menunggu mati. Terkadang ia menekan bel di tangan kirinya, satu-satunya bagian tubuh yang masih bisa digerakkan, untuk memanggil pembantunya bila pispotnya penuh, atau saat ia ingin buang air besar, atau sekedar iseng ingin diajak jalan-jalan keliling rumah dengan kursi roda.

“Kok Om kamu sendirian aja tinggal disini?”

“Anaknya udah pada gede-gede. Ada yang gawe, ada yang gitting dan tinggal ama nyokapnya, tapi nggak ada yang mau ngurus dia.”

“Kok? Emang istrinya kenapa?”

“Udah cerai lama sama dia. Waktu sehat kejantannya terlalu aktif, selingkuh kesana kemari, simpenannya banyak, anaknya yang ngurus cuma bininya. Terus cerai, ditinggal selingkuhannya, sekarang di sinilah dia. Berkubang nunggu mati.”

“Oh.”

Mereka berdua merokok sambil melamun. Si pemuda melamunkan Simone. Berpikir apa dia mau meninggalkan suaminya demi pemuda itu. Ia memperhatikan Simone. Bibirnya yang tebal menghisap rokok dengan nikmatnya, sedikit-sedikit. Matanya nanar menatap pagar rumah yang tinggi dan berwarna putih. Pandangan matanya kosong, entah apa yang dipikirkan perempuan itu, pikir si pemuda.

“Kenapa sih kamu nikah, Mon?” pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut si pemuda.

“He..,” gadis itu tertegun seeakan baru bangun dari tidurnya.

“Aku sih cuma pengen bebas dari mama papa aja. Bosen dikontrol mereka. Ngekang banget.” “Jadi kamu nikah terpaksa dan kamu nggak cinta sama suami kamu?”

Yaa…enggak juga sih. Aku suka sama dia, dia orang yang paling perhatian sama aku beberapa tahun ini. Waktu dia ngelamar aku, aku udah bilang aku nggak cinta sama dia, tapi aku mau nikah sama dia soalnya aku butuh suami. Bukan buat jagain aku, tapi buat asesoris status aja, biar bisa bebas. Kita udah komitmen free-relationship kok, jadi aku santai aja.”

“Kalo sama aku?” “Jangan mulai deh. Udah jelas kan? Aku nggak cinta sama siapapun, nggak juga kamu. Tapi aku suka sama kamu, jadi nikmatin aja waktu-waktu ini yang nggak bakalan tahan selamanya. Ok, Di.”

Waktu yang tak akan bertahan selamanya. Kata-kata Simone selalu melekat dalam benak pemuda itu. Suatu hari ia akan menyadari kalau mereka terjebak dalam suatu ruang dan waktu, yang tak pernah akan kembali. Hari sudah sore ketika si pemuda bangun dari lelapnya tidur siang karena mabuk. Dua hari ia dan Simone hanya tidur, senggama, dan nyuntik. Pemuda itu tak pernah puas, tetapi ia bahagia karena semua masalah seakan tidak pernah ada. Ayah-ibunya tak pernah cerai, adik perempuannya yang pertama tak pernah menjadi seorang penganut agama yang fanatik dan mengutuk-ngutuknya, adik perempuannya yang kedua tak pernah menjadi anak SMP yang selalu gonta-ganti pacar, ke diskotik dan having sex dengan siapa saja yang ia mau. Ia juga merasa kalau ia tak pernah lahir, ia merasa kalau ia adalah manusia lain yang hidup bahagia dalam dunia mimpi dengan syndrome euphoria tanpa akhir dan seorang gadis yang dicintainya.

“Simone…” si pemuda mencari-cari perempuan itu dengan meraba-raba kasur. Seharusnya ia tidur disebelahnya. Ia membuka mata, dan melihat sekeliling kamar. Ia menemukan sesosok tubuh telanjang tertidur tertelungkup dengan kulit yang pucat diatas karpet.

“Mon!” pemuda berteriak dan membalik badan kurus perempuan itu. Di lengannya menempel jarum suntik dan dari mulutnya keluar busa. Ia sudah tidak bergerak. Matanya melotot dan tubuhnya kaku. Si pemuda berteriak-teriak minta tolong. Ia memeluk perempuan itu dan menciuminya berkali-kali. Ia terus berteriak, terus berteriak sampai semua orang datang dan kau dan aku melayang di langit-langit kamar. Kita diam. Kita bisu. Kita tuli.

                                                                      ***

Di sebuah restoran fast food, sepasang manusia bercengkrama sambil makan ayam goreng dengan memegang nasi yang terbungkus kertas. Tak ada tawa lepas dalam percakapan mereka, hanya sedikit senyum dan raut wajah yang kaku. Seperti dua orang yang baru kenal beberapa menit. “Kapan kamu tahu kamu kena?” tanya wanita itu kepada si pria.

“…tiga hari setelah anakku lahir.”

“Kamu punya anak? Jangan-jangan kamu nikah juga lagi?”

“Begitu deh.” Si pria menjawab dengan santai sambil makan. Si wanita enggan bertanya lebih jauh karena tahu kalau anak dan istri si pria pasti juga kena.

“Anakku belum tentu kena kok. Soalnya lahirnya sesar dan nggak boleh di susuin ibunya.” Pria itu menjawab seakan tahu apa yang di pikirkan si wanita.

“Masih inget si Hendi nggak? Itu, selingkuhannya Simone.” Si pria bertanya kepada si wanita yang dulu adalah sahabat dekat Simone.

“Hendi si pembalap itu, yang dulu sering ikut dugem bareng kita?”

“Iya. Dia sekarang udah kerja juga jadi developer lho. Bisa juga kerja tuh anak.”

“Terus hubungannya sama Simone?”

“Udah abis lama. Sekitar setahun setelah kamu rehab ke Singapur, Simone meninggal.”

“Hah!?” si perempuan menjatuhkan makanannya karena kaget, ”Kenapa? OD, ya?”

“Awalnya sih aku denger gitu, tapi meninggalnya lebih mirip bunuh diri.”

“Kok kamu tahu?”

“Aku ketemu Hendi sekitar 2 bulan yang lalu di Klinik Dharmais. Dia juga kena. Katanya, Simone make sampe OD itu disengaja. Mereka lagi sama-sama waktu itu, dan waktu si Hendi bangun, Simone udah meninggal. Kata Hendi dia udah pakaw waktu tidur bareng siang itu, tapi dia malah terus ngetep padahal udah tinggi. Padahal dia udah ngerti dosisnya.”

“Simone lebih beruntung daripada kita. Aku juga kadang-kadang pengen bunuh diri.” Perempuan itu entah kenapa tak ingin bertanya lebih jauh lagi mengenai Simone, seakan sudah tahu pasti kenapa Simone mati.

“Kamu berubah deh. Jadi lebih pesimis.”

“Kan aku bilang ‘kadang-kadang’. Kamu juga berubah, jadi bapak-bapak yang kolot. Ngerasa nggak sih kamu, hidup kita nggak pernah berubah? Udah nggak make, kena AIDS. Kurang apa lagi hidup kita, Bay? Tapi aku optimis, hidup harus dijalanin ampe abis. Soalnya abis mati kan nggak bakal ada apa-apa. Selesai semua!”

“Kamu masih nggak percaya akhirat?”

“Begitulah. Sekarang aku sadar satu hal, Bay. Manusia nggak bakal jadi lebih baik. Masalah nggak bakal ilang, ngedrugs atau tanpa ngedrugs. Semua orang gitu kok, mereka belom sadar aja. Masih pada ngarep. Muter-muter terus ampe mati.”

“Aku nggak bisa bohong sama diri sendiri. Aku setuju sama kamu. Tapi aku masih ingin ngeliat orang-orang yang aku sayang bahagia. Aku seneng ngeliatnya. Makanya aku berhenti make terus nikah.”

“Hebat kamu masih perduli sama mereka. Orang-orang yang nggak bisa dipercaya.” Dalam hati, pria itu sangat mengerti apa maksud si wanita. Manusia memang tidak bisa dipercaya, mereka bahkan tidak bisa mempercayai diri sendiri. Pria dan wanita itu berfikir, ketika orang-orang menuntut mereka supaya sembuh, mengasihani mereka, orang-orang itu menjadi egois karena semua kelakuan baiknya semata-mata hanya untuk melihat estetika dalam hidup mereka. Menolak kejelekan hidup. Si pria dan wanita, Simone dan Hendi, adalah contoh orang-orang bebas yang terbuang. Mereka berpisah setelah si pria mencarikan taksi untuk si wanita yang tak mau diantar pulang. Itulah terakhir kali mereka bertemu. Akhirnya selesai sudah urusan mereka yang terjebak dalam ruang dan waktu. Kau dan aku tak perlu tahu apa urusannya, biar itu tetap jadi urusan mereka. Kita hanya perlu melihat dari sini dan merenungi nasib kita sendiri.

(Tb.Simatupang 030905)

A Glimpse of Hope

Lonely. I didn’t know why, in the crowd I felt so lonely. It was Saturday. The weather was hot for the sun burnt brightly over this place, a polluted center of Jakarta. I have walked quite a long way in this study tour with my classmates from the Introduction to British Culture class. I’ve passed the national monument with its gold peak, the Jakarta boulevard that has the foot prints of ex-Jakarta’s Majors instead of celebrities’ like the ones on the Hollywood boulevard, the Istiqlal mosque which supposed to be the biggest mosque in south-east Asia with its stinky artificial river and lots of merchants and Moslems who wanted to pray, selling merchandise, or just sleeping. Nothing impressed me but the blues from my Walkman and the girl walking in front of me. Impressing, physically attractive she was. Not bad for an illusion of oasis in the hot weather.

Illusions. Yes, nothing but illusions. She was illusion, even this life, and everything between them was illusion; human demands, love, hate, vengeance, justice. At least that was what I thought at that time. At least that was what I wanted them all to be. All these things sucked up the consciousness inside of me. It was quite a long while since I’ve drowned myself to a world of my own. Running from all my dilemmas in life, choosing not to choose for afraid of consequences, ignoring everything, doing nothing purposely, just did anything randomly. I was nothing but the books I read, the blues I heard and played, and the boosts I drank. Nothing existed for me but myself. No rules, no freedom, no God, nothing; until I visited that place. The place that I thought I can only imagine from books, the place that Christians adores although in the past that place was the center of doctrines and dogmas: the Cathedral Church.

It was a huge medieval building. I think all the stones and architecture was imported from Europe. There were so many people getting out of the building at the time when I got there. Maybe there had been a mass or some celebration. The building was about 30 meters tall, with its exterior formed by a relief of medieval pillars. I can sense the gothic atmosphere so thick. The interior? I think I have to tell you some things before we go to that part. What impressed me the most was the things happened there which other people might think as nothing special. The first thing happened was when an old man with thick beard and moustache, and a long hair came over me and offered a Jesus handicraft. What concerned me the most was his appearance: he looks exactly like Karl Marx whose picture I use to see in the philosophy books I’ve read. Imagine the ironic of that: Marx that used to criticized the bible, selling Jesus handicraft in front of a Cathedral Church.

“Would you like to buy this handicraft, boy?” he asked me. I was amazed. For a moment I thought I lost my mind. I thought my imagination has become one with my reality.

“No thanks…” I entered the church after turned my back on him. I was more amazed when I went inside the church. It was noon and the sun was shining so brightly outside, however, inside the church was so gloomy. Once I entered, there were lots of candles on two huge rectangular chandeliers, each can contained about 50 candles, burning on the right and left sides of the huge wooden door from which I entered. After each big chandelier there was statues of Virgin Mary and baby Jesus on the right side, and Jesus on the left side. There were some people praying there side to side to the chandelier. Facing the statues.

After that, I looked ahead and found an enormous hall. Its ceiling was so high, and the sculpture of the ceiling was like in a bat cave, with the gothic style: statues and the sculpture of plants on the pillars. The hall was full of long wooden chairs, with elbows holder that looked like a long table for people to pray. I walked between these chairs. Straight ahead, my lecturer was talking to the priest. On my right side, after passing about ¾ of the whole hall, I saw a podium that was put about 1,5 meters above the chairs. The podium stood like a cliff with the chairs underneath.

When I looked diagonally right, on the second floor that could be seen from where I stood, I found an enormous musical piano-like instrument with its huge pipes like the one in the medieval times. The one I used to see in classic movies like Bram Stoker’s Dracula. In front of me I saw a very bright altar. With a podium, candles, flowers, and a huge cross. On the left and right side of the podium, again, I found the statue of the Mother and the Son. I sat on the third row. After taking out my headphones, and observe my surroundings, I felt empty and unworthy. Just like the last time I prayed on a mosque, or finishing my Koran reading lesson. I envied the people there like I envied my parents, my friends, my Religious Koran teacher who like to pray, and every religious person I knew. For it seems like they spoke to God, and God to them but He/She never speaks to me. I have lost that feeling of mystic and melancholy in my prayers. God stops the peace in my heart as taking the focus out of me every time I pray. I’ve run to books and analyze the Koran; I found a few simple answers and a lot more of complicated questions.

But to heaven with all of that!! At least I can still find some aesthetic in life. I still can adore the architecture of this church, and the atmosphere in it. I still can enjoy the sounds of Adzan in the dawn. I still could found the girl sitting a few meters from me attractive. I still could found the proof of God creativity in her and in every combination of causalities in this world. However, I still reject the religion I used to take, or any other religion, for I find myself caught in dogmas and doctrines in them. I rather believe in my self and my God.

You see, the thoughts I’ve told you above were my conclusions. God didn’t speak to me in the mosque, in my prayers, or when I’m alone, but in a church. He made me conclude that he loves me by making me realize that I’ve got a lot of things that made the feelings of mystic and amazement to Him/Her occurred. I’m not saying I found God in this Church, since I stopped believing in religions (especially the Semite religions) when I found it contradictive to some things that I believe as the right things in life. Since I found no argument in proving god existence to Nietzsche, no matter how hard I tried to keep my faith. But then I found the glimpse of peace, and the meaningful thought and symbols or should I say, Omens. I found the reasons of my faith in my thoughts here; that Karl Marx has change his profession from Philosopher to Jesus Merchandise seller, that the beauty I saw in a girl, or the beautiful sound of blues and adzan, or every beautiful or awful things in my life was the proof of God existence; that there will be nothing beautiful if there’s nothing awful. So once again, Nietzsche was right, I should never believe in everything Zarathustra said!

Sebuah monolog untuk E..

E Perempuan yang tak sempat kukenal lebih jauh

Mari kita berlari lagi diantara gedung-gedung tinggi menjulang dan mobil-mobil yang terjebak kemacetan ditengah kota. Bisingnya adalah suatu nyanyian, baunya adalah suatu keharuman. Mari kita hirup dalam-dalam polusi udara kota ini dalam gemerlap malam bukti kemapanan yang tersungkur dalam lubang kenistaan.

Mari, hanya kau dan aku, hanya kita berdua, dan kota ini kosong. Kita berlari lewat atas atap-atap mobil, buat mereka rusak dan kita tertawa riang. Seringai bulan tertutup kabut, entah asap, entah awan, adalah kebanggaan tersendiri pada ketuaan semesta. Kita masih muda dalam semesta yang tua maka nikmatilah perempuan tua yang bermake-up tebal ini. Lalu kita berhenti dan duduk-duduk di atap gedung kaca yang paling tinggi di kota ini.

Dengan ganja di tangan dan racun di paru-paru kau bertanya padaku, ”Inginkah kau menjadi tua?” dan aku menjawab, “Ya, aku ingin. Aku ingin merasakan tua lalu mati perlahan.”

“Kenapa?” tanyamu lagi kepadaku sembari menghisap lintingan, menutup mulutmu dengan telapak tangan dan menghisap asapnya dari hidung.

“Kenapa tidak,” kataku, “kalau aku bisa, aku malah ingin hidup seribu tahun lagi, seperti kata penyair yang hidupnya tak lebih dari dua puluh tujuh tahun itu.”

“Tidakkah kau menemukan hidup ini menjemukan, kawan?” katamu, “repetisi ini menyedihkan! Untuk orang-orang sejenius kita, sudah tertebak akan jadi apa pilihan-pilihan yang kita lakukan. Dunia sudah terbukti bobrok dan dialektikanya akan terus berjalan sampai akhir zaman yang entah kapan, tetapi pasti datang.”

“Darimana kau tahu pasti datang?”

“Akhir zamanku datang ketika aku mati. Kaupun begitu.”

“Aku bosan, tetapi nanti akan ada saat tidak bosan. Tidakkah kau merasa begitu?” kataku, “bagi dong..” aku minta sedikit batangan putih dari tangannya.

“Eit! Jangan ganggu orang yang lagi asyik.”

“Huh, perempuan kok suka nyimeng.”

“Emang kenapa kalo perempuan suka nyimeng? Aturan siapa? Tuhan? Pria yang berkontol dan ngikutin nafsunya sendiri ngapain diikutin.”

“Kau bicara sembarangan. Tak takut masuk neraka? Dikutuk baru rasa kau!”

Human is already condemned! Dan kau dan aku sudah di neraka.”

“Aku sih ngeliatnya berkah.” Kataku sambil mengambil gelas berisi cairan hitam pekat dan meneguknya. Dia memperhatikan.

“Kau tahu,” katanya sambil mengambil gelas plastik dari tanganku, menuangkan plastik berisi cairan hitam berbau aneh, lalu melihat ke dalam gelas,”dulu aku pernah terbang di atas sebuah kota di timur.

“Kota itu indah sekali. Lebih indah dari kota kita ini. Di sana tak ada mobil, karena mobil-mobil sudah hangus terbakar. Tidak ada gedung lagi, yang ada cuma reruntuhan, tidak ada suara bising kota lagi, yang ada hanya dengungan sisa ledakan besar, sisa supernova diatas bumi. Dan yang paling menarik adalah, di sana tak ada orang, hanya ada hantu-hantu. Mereka merayap meratapi patung-patung karbon yang berceceran di jalan dan hanyut di sunga-sungai buatan ledakan yang berwarna biru pekat. Mereka sedang meratapi anggota keluarga dan teman-teman mereka yang tidak berhasil jadi hantu dan hangus dalam keindahan radiasi buatan.

“Lalu, tiba-tiba hujan turun. Para hantu yang tidak pernah merasakan air lagi sejak kematian mereka tersentak kaget. Karena air yang ini terasa begitu nikmat. Warna tetesan hujan itu hitam, seperti cairan pekat yang sedang kulihat ini dan sudah kau minum tadi. Mereka menengadah ke atas sebisa mereka. Yang sudah tidak bisa berdiri membalik badannya yang hitam terbakar dan membuka mulutnya, yang lain berdiri dan menganga. Mereka merasakan cairan pahit dan berbau anyir itu masuk kedalam tubuh mereka, menetes di wajah mereka, dan di kulit mereka yang sudah terkelupas. Lalu mereka mati perlahan-lahan. Hujan itu adalah penyembuh. Pemandangan yang begitu indah. Seandainya itu bisa terjadi di kota laknat ini.”

Aku diam dan berpikir, apa yang membuat kawanku ini begitu dendam pada peradaban.

“Aku dendam,” tanpa ditanya dia menjawab—apa dia bisa membaca pikiranku?—“karena keberadaanku dan kau berbeda, karena aku dibawah, karena kau diatas, karena mereka yang di atas merasa disayang oleh pria berkontol yang menciptakan dunia ini. Aku berkeluh kesah. Aku harap semua dunia dapat merasakan yang kurasakan dan kuharap mereka semua bunuh diri!!!”

Ia berteriak sambil membuang gelas yang masih penuh cairan hitam. Aku memeluknya, dan berkata, “Aku mencintaimu, dengan seluruh jiwa ragaku.” Aku berbisik padanya,”percayalah, aku tidak seperti mereka. Aku ingin merasakan apa yang kau rasakan. Aku ingin kau merasakan apa yang aku rasakan. Kalau kau ingin mati, aku ingin membuatmu ingin hidup, bahagia dan puas dalam masochisme ini. Kalau tidak bisa, kita tak perlu nyawa mereka, kau bisa bunuh diri bersamaku.”

Dia menangis dalam pelukanku, dan sambil berpelukan kami melayang. Di atas gedung itu kami melayang menuju bulan purnama yang bopeng dan penuh awan. Bulan yang tidak memakai make up tak perduli betapa bopengnya ia. Bulan yang tetap cantik dan bersinar dengan kejujurannya. Seperti kau, dan tidak seperti dunia yang terus dihias di wajah, tapi ditusuk-tusuk linggis di vaginanya. Aku dan dia terbang menuju angkasa tanpa batas, dan selama kami melayang, kota dan gedung-gedung perlahan menghilang, harumnya polusi menguap, lancarnya kemacetan dan hingar bingar kota tak terdengar, semua menjadi hampa dan kami tersenyum. Ternyata tak perlu bunuh diri untuk mencapai keabadian: surga nihilis.

Tb Simatupang 050905